BANGSA ARAB
PRA-ISLAM
Sejarah
Peradaban Islam
DISUSUN OLEH :
KELOMPOK 1
~
NIRGAHAYU (90400114088)
~
ROSDIANA (90400114090)
~
SULASTRI (90400114093)
~
KURNIA (90400114132)
FAKULTAS
EKONOMI DAN BISNIS ISLAM
UIN ALAUDDIN
MAKASSAR
2015
BAB I
PEMBAHASAN
A.
Asal Usul Bangsa Arab
Secara
Etimologis kata Arab berasal dari kata ‘Araba artinya yang berani bergoyang
atau mudah berguncang. Bangsa Arab maupun Israel termasuk dalam rumpun bangsa
Semit atau Samyah. Nabi Ibrahim dianggap sebagai cikal bakal dari rumpun bangsa
itu yang diduga berasal dari Babilonia.
Secara fisik bangsa Arab tidak
menunjukkan bentuk yang tunggal, karena terdapat variasi yang berkaitan dengan
lokasi. Di Arab Utara fisik mereka mirip dengan orang Eropa, yang memiliki
rambut agak kemerah-merahan, agak bergelombang, dan warna kulit agak cerah. Di
Arab Tengah fisik mereka agak tambun, warna kulit cerah, rambut bergelombang
dengan warna hitam. Sedangkan Arab Selatan memilki bentuk hidung mancung dan
melengkung, bagai patuk burung elang. Bentuk pipi menonjol, mata tajam agak
terlindung tulang dahi. Rambut hitam dan bergelombang dengan warna kulit agak
kelam. [1]Perkembangan
bangsa Arab terbagi kepada tiga kelompok besar, yaitu:
1. Arab
Ba’idah, yaitu kaum-kaum Arab terdahulu yang
sejarahnya tidak bisa dilacak secara rinci dan komplit. Seperti Ad, Tsamud,
Thasn, Judais, Amlaq dan lain-lainnya.
2. Arab
Aribah, yaitu kaum-kaum Arab yang berasal dari keturunan
Ya’rub bin Yasyjub bin Qahthan, atau disebut pula Arab Qahthaniyah.
3. Arab Musta’ribah, yaitu
kaum-kaum Arab yang berasal dari keturunan Isma’il, yang disebut pula Arab
Adnaniyah.[2]
Kehidupan
orang-orang Arab sebelum Islam sering disebut dengan kehidupan
Jahiliyah. Akan tetapi, jahiliyah dalam pengertian suatu tata kehidupan yang
terlepas dari nilai-nilai ajaran Agama, walaupun masyarakatnya menganut agama.
B.
Bangsa Arab Pra-Islam
1.
Segi Kepercayaan
(agama)
Sebelum agama Islam datang, bangsa Arab telah menganut
agama yang mengakui Allah sebagai Tuhan mereka. Kepercayaan ini diwarisi secara
turun- temurun sejak Nabi Ibrahim a.s. dan Nabi Isma’il a.s.. Al-Qur’an
menyebutnya dengan agama yang hanif, yaitu suatu kepercayaan yang
mengakui keesaan Allah sebagai pencipta alam semesta; yang menghidupkan dan
yang mematikannya; serta memberi rezeki dan lain sebagainya.
Kepercayaan kepada Allah tersebut tetap diyakini oleh
bangsa Arab hingga kerasulan Nabi Muhammad s.a.w.. Hanya saja keyakinan
tersebut dicampuradukkan dengan takhayul, khurafat dan kemusyrikan; menyamakan
Tuhan dengan jin, roh, hantu, bulan bintang, matahari, berhala, pohon dan lain
sebagainya.
Kepercayaan yang menyimpang dari agama hanif
itu disebut dengan Watsaniyah. Artinya, agama yang mempersyerikatkan
Allah dengan mengadakan sesembahan kepada:
1.
Anshab, yaitu batu yang belum memiliki bentuk.
2.
Autsan, yaitu patung yang terbuat dari batu.
3.
Ashnam, yaitu patung yang terbuat dari kayu, emas, perak,
logam dan semua patung yang tidak terbuat dari batu.
Penyimpangan itu terjadi perlahan-lahan. Mereka
menyatakan berhala-berhala itu sebagai perantara terhadap Tuhannya. Sedangkan
Allah tetap diyakini sebagai Yang Maha Agung. Akan tetapi, antara Tuhan dengan
makhluk-Nya dirasakan ada jarak yang mengantarainya. Berhala-berhala itu
perlambang malaikat dan putera-puteri Tuhan. Berhala-berhala juga merupakan
kiblat atau penentu arah dalam penyembahan dan peribadatan. Berhala itu tempat
bersemayamnya roh nenek-moyang mereka yang harus dihormati dan dipuja.
Demikian juga di antara mereka ada yang mempertuhankan
binatang-binatang dan tumbuh-tumbuhan sebagai anasir yang memberi pengaruh
terhadap alam semesta dan kehidupan manusia.
Akan tetapi sampai sekarang ini belum dapat diketahui
dengan pasti bilakah bangsa Arab itu mulai menyembah Anshab, yang
merupakan awal dari penyimpangan terhadap agama yag hanif itu. Namun,
penyembahan terhadap Autsan, ada riwayat yang menyatakannya mulai
dilakukan semenjak abad pertama Sebelum Masehi, dan berlanjut dengan
penyembahan terhadap Ashnam yang mulai dilakukan pada akhir abad kedua
Masehi.
Pada masa itu, Umar bin Lu’ai mengadakan perjalanan
dari Mekah ke Siria. Di Balka – yang pada saat itu sudah berdiri Kerajaan
Amaliqah – ia mendapati penduduk negeri tersebut sudah menyembah berhala,
sesuatu yang belum pernah dilihat sebelumnya. Setelah bertanya apa yang
disembah itu, ia memperoleh jawaban, bahwa yang disembah penduduk negeri itu
adalah berhala yang memberi tuah, mampu mencurahkan hujan dan dapat memberi
pertolongan. Ia meminta pada penduduk negeri itu, agar diberikan pula padanya
sebuah berhala yang akan dibawanya pulang. Mereka memberikan kepadanya sebuah
patung yang bernama Hubal; dan sesampainya di Mekah, ia pun menyuruh
bangsanya agar menyembah patung itu.
Hubal adalah
berhala yang terbesar yang diletakkan di dalam Ka’bah, terbuat dari batu akik
merah dan berbentuk seperti manusia. Semula tangan patung itu buntung, tetapi
akhirnya diberi tangan emas oleh bangsa Quraisy.
Selain Hubal, banyak berhala yang diletakkan di
sekitar Ka’bah. Adapun nama-nama berhala itu diberikan berkaitan dengan tujuan
penyembahan. Di antara nama-nama berhala yang tersebut di dalam al-Qur’an
ialah:
1.
Manata, yang berarti Yang Maha Kuasa. Nama ini ada
juga tercantum dalam Kitab Talmud. Patung Manata ini disembah oleh Kabilah
Hudzail dan Khuza’ah.
mereka tempatkan di Musyallal ditepi laut merah dekat Qudaid.
2.
Lata, yang merupakan perlambang dari matahari. mereka
tempatkan di Tha’if.
3.
Uzza, merupakan perlambang bunga. mereka
tempatkan di Wady Nakhlah
Ketiga berhala tersebut, dipuja dan diagungkan juga
oleh bangsa Quraisy terutama di saat mereka melakukan thawaf. Kepada mereka
itulah, bangsa Quraisy mengharapkan syafaat dan pembelaan.
Di samping ketiga patung yang terkenal itu, dikenal
pula: Waddan, sebagai lambang kasih-sayang; Suwa’an, sebagai
lambang kekerasan; Yaghutsan, sebagai lambang kesulitasn; dan Nasran,
sebagai lambang kekuatan dan kecepatan.
Setiap kabilah/keluarga, mereka memiliki berhala
kesayangan yang disimpan dalam rumah/tempat kediaman mereka, dan akan disembah
pada waktu-waktu tertentu. Pemujaan itu dilakukan dengan mempersembahkan hewan
kurban dan makanan di hadapan berhala, sebagai tumbal dari suatu nadzar atau
permohonan yang terkabul. Darah hewan sembelihan, disapukan pada berhala
sebagai tempat bernadzar. Begitu juga meramal nasib, dilakukan di hadapan
berhala dengan menggunakan alat undian yang disebut azlam.
Pada umumnya, kabilah-kabilah Arab mempunyai Ashnam
dan Autsan favorit yang dipujanya. Di samping itu, ada juga kabilah yang
menyembah matahari seperti Kabilah Himyar dan Keturunan Balkis. Kabilah Thai
menyembah bintang Tsurayah; Kabilah Tamim menyembah Durban; Kabilah Khuza’ah
dan Quraisy menyembah bintang Syura dan Abur; dan Kabilah Rabi’ah menyembah
bulan dan begitu seterusnya.
Akan tetapi, tidak semua orang Arab Jahiliyah
penyembah Watsaniyah, karena ada beberapa kabilah yang menganut agama Yahudi
dan Masehi. Agama Yahudi dianut oleh bangsa Yahudi, yang juga masih termasuk
rumpun Semit.
Agama Yahudi sampai di Jazirah Arab dibawa oleh Bangsa
Israil dari negeri Asyuria. Mereka datang ke situ, karena diusir oleh raja
Rumawi yang beragama Masehi. Pengusiran itu berlangsung terus-menerus, sehingga
mereka berangsur-angsur mengungsi ke Yatsrib dan sekitarnya. Pada abad kelima
Masehi, kelompok ini telah tersebar di sebelah utara Jazirah Arab, seperti
Taima, Khaibar, Yatsrib dan Wadil-Quda. Kemudian meluas ke bahagian selatan
Yaman dan Najran. Penyebaran mereka di Jazirah Arab terutama melalui jalur
perdagangan.
Jatuhnya Himyariyah ke bawah kekuasaan Nasrani,
merupakan kelemahan mereka untuk menghadapi Persi dan Rumawi. Di samping itu,
mereka terkenal sebagai bangsa yang cerdas dan licik, maka dengan kemampuan
yang mereka miliki itu ajaran-ajarannya disiarkan juga kepada beberapa kabilah
Arab. Ajaran-ajaran mereka itu diterima dengan baik, sebab ajaran-ajarannya
sejalan dengan pemikiran keagamaan bagsa Arab yang memang berakar pada ajaran
Nabi Ibrahim a.s..
Al-Masih (Nabi Isa a.s.) dibangkitkan untuk menyeru
Bani Israil untuk menyembah Allah; agar berbudi luhur; menyayangi si lemah;
zuhud dari kehidupan dunia dan memperbanyak amalan ukhrawiyah. Ajaran-ajaran
al-Masih disiarkan oleh sahabat-sahabatnya. Sabda al-Masih dan ceritera
kehidupannya dihimpun dalam Kitab Injil.
Semenjak abad pertama Masehi, bangsa Arab telah
berhubungan dengan pemeluk agama Masehi, yaitu sewaktu mengadakan perdagangan
ke wilayah Rumawi dan Habsyi. Agama ini berkembang di kalangan bangsa Arab pada
abad keenam Masehi. Ada beberapa kabilah yang memeluknya, seperti Kabilah
Taghlib, Ghasasinah dan Khudla’ah di sebelah utara, dan Yaman di sebelah
selatan.
Pada masa itu, agama Masehi terpecah menjadi beberapa sekte, seperti Nasturiyah yang
tersiar di Hirah; Ya’qubiyah di Ghasasinah dan Siria. Kota yang menjadi pusat
penyiaran agama ini adalah Najran. Kota ini dikelilingi oleh wilayah pertanian
yang subur.
Meskipun menjelang kenabian Muhammad s.a.w. kehidupan
keagamaan beraneka-ragam, namun ada juga kelompok masyarakat yang terbebas dari
pengaruh Watsaniyah, Yahudi dan Masehi. Kelompok ini tetap berpegang pada agama
hanif, yang menyeru agar mengesakan Allah dan melepaskan diri dari pengaruh
adat jahiliyah, seperti membunuh bayi wanita, meminum khamar dan bermain judi.
Mereka yakin akan dekatnya masa kebangkitan seorang
rasul yang akan membawa ke jalan yang benar, dengan melaksanakan kebajikan dan
menghentikan kemungkaran. Di antaranya ialah Umayah bin Abi Salat (seorang
penyair); Waraqah bin Naufal (seorang yang memiliki Kitab Injil); dan Qais
bin Saudah al-Abadi (seorang yang arif bijaksana, ahli pidato dan hakim).
Ketiga orang itu melaksanakan ajarannya masing-masing
dengan ajeg dan patuh, walaupun masih berbaur dengan pemujaan terhadap
berhala. Ka’bah, sebagai rumah ibadah tetap dimuliakan; dan kota Mekah
tetap dianggap sebagai Kota Suci dan Pusat Peribadatan. Setiap
tahun mereka mengadakan Ziyarah dan mengerjakan ibadah haji. Di tengah-tengah
pelaksanaan ibadah, mereka tetap mengadakan penyimpangan, seperti tawaf
mengelilingi Ka’bah tanpa busana dan lain sebagainya.[3]
2.
Sosial Budaya
Arab
Sistem
sosial masyarakat Arab mengikuti garis bapak (patrilinial) dalam
memperhitungkan keturunan, sehingga setiap nama anak dibelakangnya selalu
disebutkan nama bapak. Bahkan secara beruntun nama bapak-bapak mereka
dicantumkan dibelakang nama mereka dan dikaitkan dengan status dalam
keluarga , yaitu bin yang berasal dari kata ibnu yang berarti anak laki-laki.
Bagi anak perempuan tentu saja disebut binti, yang berarti anak
perempuan. Orang-orang Arab sangat bangga dengan rentetan nama-nama
dibelakang nama mereka. Dalam sebuah kabilah atau suku bangsa mereka
terikat oleh bapak moyang mereka yang sangat dihormati. Sekelompok orang yang
berada dalam satu garis keturunan dengan moyang yang sama biasa disebut sebagai
satu keluarga besar dengan sebutan Bani (anak keturunan), keluarga atau dinasti
tertentu. Dalam sistem masyarakat Arab yang sederhana sebuah kabilah dikepalai
seorang ternama sebagai seorang patriarkh atau seoarang bapak utama atau
perimus interpares, dengan julukan syekh.
Masyarakat Arab sebelum
Islam adalah masyarakat feodal dan sudah mengenal sistem perbudakan. Sistem
kekerabatanya adalah sistemik partilinial (Patriarchat-agnatic) yaitu hubungan
kekerabatan yang berdasarkan garis keturunan bapak. Wanita kurang mendapat
tempat yang layak dalam masyarakat. Bahkan tidak jarang apabila mereka
melahirkan anak perempuan, mereka merasa malu dan hina, kemudian mereka
kuburkan hidup-hidup, seperti yang dinyatakan dalam ayat Al-qur'an surat
An-Nahl Ayat 58-59: artinya: dan apabila salah seorang diantara mereka
dikabarkan dengan kelahiran anak perempuan, lalu merah pada mukanya, sedang ia
berduka cita. Ia menyembunyikan diri dari kaumnya, karena kejelekan berita
tersebut, apakah anak perempuan tersebut terus dipelihara dengan menanggung
hina atau dikubur hidup-hidup ke dalam tanah. Ketahuilah amat kejam hukuman
yang mereka lakukan. Dengan demikian, akhlak masyarakat telah merosot sekali,
sehingga sering berlaku hukum rimba yakni siapa yang perkasa ialah yang
berkuasa, siapa yang bodoh diperas oleh yang pandai, siapa yang miskin dihisap oleh
yang kaya. Masa inilah yang disebut dengan masa Jahiliyah.
Jahiliyah (bahasa
Arab: جاهلية, jahiliyyah) adalah konsep dalam agama Islam yang
berarti "ketidaktahuan akan petunjuk ilahi" atau "kondisi
ketidaktahuan akan petunjuk dari Tuhan" atau masa kebodohan (Qutb,
Sayyid (1981). Milestones. The Mother Mosque Foundation. p.11, 19) keadaan
tersebut merujuk pada situasi bangsa Arab sendiri, yaitu pada masa
masyarakat Arab pra Islam sebelum
diturunkannya al-Qur'an. Pengertian khusus kata Jahiliyah ialah keadaan
seseorang yang tidak memperoleh bimbingan dari Islam dan al-Qur'an.
Adat-adat
buruk bangsa Arab pada zaman jahiliah yaitu :
a.
Al-qimar (judi), atau yang lazim dikenal dengan istilah “al-maysir”. Merupakan kebiasaan penduduk kota-kota
di kawasan jazirah, seperti Makkah, Thaif, Shan’a, Hajar, Yatsrib, Daumatul
Jandal, dan sebagainya. Islam melarang kebiasaan semacam ini melalui turunnya
surat Al-Maidah ayat 90,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ
آمَنُواْ إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالأَنصَابُ وَالأَزْلاَمُ رِجْسٌ
مِّنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar,
berjudi, (berkorban untuk) berhala, dan mengundi nasib dengan panah adalah
termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu
beruntung.”
(Q.s. Al-Maidah: 90)
(Q.s. Al-Maidah: 90)
b.
Menenggak
khamr dan berkumpul-kumpul untuk minum khamr bersama, bangga karenanya, serta memahalkan harganya. Ini merupakan
kebiasaan orang-orang kota dari kalangan hartawan, pembesar, dan pujangga
sastra. Ketika kebiasaan ini mengakar kuat di tengah mereka dan bertakhta di
hati mereka, Allah mengharamkannya secara perlahan-lahan, setahap demi setahap.
Ini merupakan salah satu bentuk kasih sayang Allah Ta’ala terhadap
hamba-hamba-Nya. Karenanya, bagi-Nya segala puji dan segala kebaikan.
c.
Nikah
istibdha’. Jika istri
dari salah seorang lelaki di antara mereka selesai haid kemudian telah bersuci
maka lelaki termulia serta paling bagus nasab dan tata kramanya di antara
mereka boleh meminta wanita tersebut. Tujuannya, agar sang wanita bisa
disetubuhi dalam kurun waktu yang memungkinkannya melahirkan anak yang mewarisi
sifat-sifat kesempurnaan si lelaki yang menyetubuhinya tadi.
d.
Mengubur
hidup-hidup anak perempuan. Seorang laki-laki mengubur anak
perempuannya secara hidup-hidup ke dalam tanah, selepas kelahirannya, karena
takut mendapat aib. Dalam Alquran Alkarim terdapat penentangan terhadap
perilaku semacam ini serta penjelasan tentang betapa kejinya perilaku ini. Hal
tersebut ditunjukkan dengan adanya celaan keras terhadap pelakunya pada hari
kiamat. Allah Ta’ala berfirma dalam surat At-Takwir,
وَإِذَا الْمَوْؤُودَةُ
سُئِلَتْ. بِأَيِّ ذَنبٍ قُتِلَتْ
“Dan apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya,
karena dosa apakah dia dibunuh.” (Q.s. At-Takwir: 8—9).
e.
Membunuh anak-anak, baik lelaki maupun
perempuan. Kekejian ini mereka lakukan karena takut miskin dan takut
lapar, atau mereka sudah putus harapan atas bencana kemiskinan parah yang melanda,
bersamaan dengan lahirnya si anak di wilayah yang merasakan dampak kemiskinan
tersebut. Kondisi ini terjadi karena tanah sedang begitu tandus dan hujan tak
kunjung turun. Setelah Islam datang, Islam mengharamkan adat keji nan buruk
seperti ini, melalui turunnya firman Allah Ta’ala,
وَلاَ تَقْتُلُواْ
أَوْلاَدَكُم مِّنْ إمْلاَقٍ نَّحْنُ نَرْزُقُكُمْ وَإِيَّاهُمْ
“Dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut
kemiskinan, Kami akan memberi rezki kepadamu dan kepada mereka.”
(Q.s. Al-An’am: 151)
(Q.s. Al-An’am: 151)
وَلاَ تَقْتُلُواْ
أَوْلادَكُمْ خَشْيَةَ إِمْلاقٍ نَّحْنُ نَرْزُقُهُمْ وَإِيَّاكُم
“Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan.
Kamilah yang akan memberi rezki kepada mereka dan juga kepadamu.” (Q.s.
Al-Isra’:31)
Yang dimaksud dengan “imlaq” adalah kemiskinan yang begitu
parah serta begitu memprihatinkan.
f.
Wanita
berdandan ketika keluar rumah, dengan tujuan menampakkan kecantikannya, pada saat dia
lewat di depan lelaki ajnabi (lelaki yang bukan mahramnya). Jalannya
genit, berlemah gemulai, seakan-akan dia memamerkan dirinya dan ingin memikat
orang lain.
g.
Wanita
merdeka menjadi teman dekat lelaki. Mereka menjalin hubungan gelap dan
saling berbalas cinta secara sembunyi-bunyi. Padahal si lelaki bukanlah mahram
si wanita. Kemudian Islam mengharamkan hubungan semacam ini, dengan
diturunkannya firman Allah Ta’ala,
وَلاَ مُتَّخِذَاتِ
أَخْدَانٍ
“… Dan bukan (pula) wanita yang mengambil laki-laki lain sebagai
piaraannya ….”. (Q.s. An-Nisa’: 25).
Padahal si wanita bukanlah mahram si lelaki. Kemudian Islam
mengharamkan hubungan semacam ini,
وَلاَ مُتَّخِذِي
أَخْدَانٍ
“… Dan tidak (pula lelaki) yang memiliki gundik-gundik ….”.(Q.s.
Al-Maidah: 5)
h.
Menjajakan
para budak perempuan sebagai pelacur. Di depan pintu rumah si budak
perempuan akan dipasang bendera merah, supaya orang-orang tahu bahwa dia adalah
pelacur dan para lelaki akan mendatanginya. Dengan begitu, budak perempuan
tersebut akan menerima upah berupa harta yang sebanding dengan pelacuran yang
telah dilakukannya.
i.
Fanatisme
golongan.
Islam datang memerintahkan seseorang menolong saudaranya sesama muslim, dekat
maupun jauh, karena “al-akh” (saudara) yang dimaksud dalam pembahasan
ini adalah saudara seislam. Oleh sebab itu, pertolongan kepadanya –jika dia
dizalimi– adalah dengan menghapuskan kezaliman yang menimpanya. Adapun
pertolongan yang diberikan kepadanya kala dia berbuat zalim berupa tindakan
melarang dan mencegahnya agar tak berbuat zalim. Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda (dalam riwayat Bukhari),
انصر أخاك ظالما أو
مظلوما. فقيل: يا رسول الله أنصنره إذا كان مظلوما فكيف أنصره إذا كان ظالما؟ قال:
تحجزه عن الظلم.
“Tolonglah saudaramu, baik dia menzalimi ataupun dizalimi.”
Kemudian ada yang mengatakan, “Wahai Rasulullah, kami akan menolongnya (saudara
kami) jika dia dizalimi, maka bagiamana cara kami akan menolongnya jika dia
menzalimi?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Engkau
mencegahnya supaya tak berbuat zalim.”
j.
Saling
menyerang dan memerangi satu sama lain, untuk merebut dan merampas harta. Suku yang kuat
memerangi suku yang lemah untuk merampas hartanya. Yang demikian ini terjadi
karena tidak ada hukum maupun peraturan yang menjadi acuan pada mayoritas waktu
di sebagian besar negeri. Di antara perperangan mereka yang paling terkenal
adalah:- Perang Dahis dan Perang Ghabara’ yang berlangsung antara Suku ‘Abs
melawan Suku Dzibyan dan Fizarah;- Perang Basus, sampai-sampai dikatakan,
“Perang yang paling membuat sial adalah Perang Basus yang berlangsung sepanjang
tahun. Perang ini terjadi antara Suku Bakr dan Taghlub;”- Perang Bu’ats yang
terjadi antara Suku Aus dan Khazraj di kota Al-Madinah An-Nabawiyyah;- Perang
Fijar yang berlangsung antara Qays ‘Ilan melawan Kinanah dan Quraisy. Disebut
“Perang Fijar” karena terjadi saat bulan-bulan haram. Fijar (فِجار ) adalah bentukan wazan فَعَّال dari kata fujur
(فجور ); Mereka telah sangat mendurhakai Allah (sangat
fujur) karena berani berperang pada bulan-bulan yang diharamkan untuk
berperang.
k.
Enggan mengerjakan
profesi tertentu, karena kesombongan dan keangkuhan. Mereka
tidaklah bekerja sebagai pandai besi, penenun, tukang bekam, dan petani.
Pekerjaan-pekerjaan semacam itu hanya diperuntukkan bagi budak perempuan dan
budak laki-laki mereka. Adapun bagi orang-orang merdeka, profesi mereka
terbatas sebagai pedagang, penunggang kuda, pasukan perang, dan pelantun syair.
Selain itu, di tengah bangsa Arab jahiliah tumbuh kebiasaan berbangga-bangga
dengan kemuliaan leluhur dan jalur keturunan.[4]
3.
Ekonomi dan Perdagangan
Terikat
oleh keadaan geografis alam yang tandus kering dan gersang, maka pada umumnya
kehidupan orang Arab sebelum Islam bersumber dari kegiatan perdagangan dan
peternakan, maka terkenallah beberapa kota di Hijaz sebagai pusat perdagangan,
seperti Mekkah, Madinah, Yaman dan lain-lainya. Dikota Mekah setahun sekali
diadakan keramaian yang ramai dikunjungi orang sekitarnya, sehingga dengan
demikian Mekkah tumbuh menjadi kota dagang antar suku bangsa yang terdapat di
sekitar Jazirah Arab, disamping itu penduduk yang tinggal dipedesaan umumnya
hidup dengan beternak kambing, biri-biri dan unta. Ternak ini sekaligus
merupakan bahan makanan bagi mereka. Hewan ternak ini mereka gembalakan dengan
jumlahnya amat sedikit dan terbatas di Jazirah Arab. JOleh karena itu kehidupan
para pternak selalu berpindah-pindah (nomaden) sesuai dengan lahan tempat
mereka, perselisihan atau peperangan antar suku dengan yang lain disebabkan
ternak. Mereka saling memperebutkan lahan yang memiliki padang rumput dan air,
demi mempetahankan kehidupan.
4.
Politik dan
Pemerintahan
Bangsa
Arab sebelum Islam tidak pernah dijajah oleh bangsa asing, bahkan tidak pernah
tercipta kesatuan politik di seluruh Jazirah Arab. Kerjaan–kerajaan kecil yang
terdapat di Jazirah Arab bagian selatan umumnya berdaulat atas wilayah mereka
yang sempit dan sebatas masyarakatnya.
Bangsa Arab
sebelum islam, hidup bersuku-suku (kabilah-kabilah) dan berdiri
sendiri-sendiri. Satu sama lain kadang-kadang saling bermusuhan. Mereka tidak
mengenal rasa ikatan nasional. Yang ada pada mereka hanyalah ikatan kabilah.
Dasar hubungan dalam kabilah itu ialah pertalian darah. Rasa asyabiyah (kesukuan)
amat kuat dan mendalam pada mereka, sehingga bila mana terjadi salah seorang di
antara mereka teraniaya maka seluruh anggota-anggota kabilah itu akan bangkit membelanya.
Semboyan mereka “ Tolong saudaramu, baik dia menganiaya atau dianiaya “.
Pada hakikatnya
kabilah-kabilah ini mempunyai pemuka-pemuka yang memimpin kabilahnya
masing-masing. Kabilah adalah sebuah pemerintahan kecil yang asas eksistensi
politiknya adalah kesatuan fanatisme, adanya manfaat secara
timbal balik untuk menjaga daerah dan menghadang musuh dari luar kabilah.
Kedudukan
pemimpin kabilah ditengah kaumnya, seperti halnya seorang raja. Anggota kabilah
harus mentaati pendapat atau keputusan pemimpin kabilah. Baik itu seruan damai
ataupun perang. Dia mempunyai kewenangan hukum dan otoritas pendapat, seperti
layaknya pemimpin dictator yang perkasa. Sehingga adakalanya jika seorang
pemimpin murka, sekian ribu mata pedang ikut bicara, tanpa perlu bertanya apa
yang membuat pemimpin kabilah itu murka.
Kekuasaan yang
berlaku saat itu adalah system dictator. Banyak hak yang terabaikan. Rakyat
bisa diumpamakan sebagai ladang yang harus mendatangkan hasil dan memberikan
pendapatan bagi pemerintah. Lalu para pemimpin menggunakan kekayaan itu untuk
foya-foya mengumbar syahwat, bersenang-senang, memenuhi kesenangan dan
kesewenangannya. Sedangkan rakyat dengan kebutaan semakin terpuruk dan
dilingkupi kezhaliman dari segala sisi. Rakyat hanya bisa merintih dan mengeluh,
ditekan dan mendapatkan penyiksaan dengan sikap harus diam, tanpa mengadakan
perlawanan sedikitpun.
Kadang
persaingan untuk mendapatkan kursi pemimpin yang memakai sistem keturunan
paman kerap membuat mereka bersikap lemah lembut, manis dihadapan orang
banyak, seperti bermurah hati, menjamu tamu, menjaga kehormatan, memperlihatkan
keberanian, membela diri dari serangan orang lain, hingga tak jarang mereka
mencari-cari orang yang siap memberikan sanjungan dan pujian tatkala berada
dihadapan orang banyak, terlebih lagi para penyair yang memang menjadi
penyambung lidah setiap kabilah pada masa itu, hingga kedudukan para penyair
itu sama dengan kedudukan orang-orang yang sedang bersaing mencari simpati.
BAB
II
PENUTUP
A. KESIMPILAN
Secara Etimologis kata Arab berasal dari kata ‘Araba artinya
yang berani bergoyang atau mudah berguncang. Bangsa Arab maupun Israel termasuk
dalam rumpun bangsa Semit atau Samyah. Nabi Ibrahim dianggap sebagai cikal
bakal dari rumpun bangsa itu yang diduga berasal dari Babilonia.
Perkembangan bangsa Arab terbagi
kepada tiga kelompok besar,yaitu:
1.
Arab Ba’idah,
yaitu kaum-kaum Arab terdahulu yang sejarahnya tidak bisa dilacak secara rinci
dan komplit. Seperti Ad, Tsamud, Thasn, Judais, Amlaq dan lain-lainnya.
2.
Arab Aribah,
yaitu kaum-kaum Arab yang berasal dari keturunan Ya’rub bin Yasyjub bin
Qahthan, atau disebut pula Arab Qahthaniyah.
3.
Arab Musta’ribah,
yaitu kaum-kaum Arab yang berasal dari keturunan Isma’il, yang disebut pula Arab
Adnaniyah.
Kehidupan
orang-orang Arab sebelum Islam sering disebut dengan kehidupan Jahiliyah. Akan
tetapi, Jahiliyah dalam pengertian suatu tata kehidupan yang terlepas dari
nilai-nilai ajaran agama, walaupun masyarakatnya menganut agama.
Masyarakat
Jahiliyah tidak mempunyai peraturan hidup yang jelas, sebaliknya menurut hawa
nafsu semata-mata.
DAFTAR PUSTAKA
‘’Keadaan
Bangsa Arab Sebelum Datangnya Rasulullah Saw’’. http://pepenggretongan.blogspot.co.id/2015/01/keadaan-bangsa-arab-sebelum-datangnya.html (Januari 2015).
Rudi Arlan Al-farisi, “Sejarah Arab Pra
Islam”, Blog Rudi Arlan Al-farisi. http://spistai.blogspot.co.id/2009/03/sejarah-arab-pra-islam.html
(2
Maret 2009).
“Bangsa Arab Sebelum Islam”. http://arp-rabbani.
blogspot.co.id/2011/11/bangsa-arab-sebelum-islam.html (16 November 2011).
“Adat
Bangsa Arab”. https://aslibumiayu.wordpress.com/2014/03/31/inilah-budaya-bangsa-arab-sebelum-datangnya-islam-sungguh-aneh-jika-ada-yang-mengatakan-jangan-mendakwahkah-islam-yang-kearab-araban/ (31 Maret 2014).
[1] ‘’Keadaan
Bangsa Arab Sebelum Datangnya Rasulullah Saw’’. http://pepenggretongan.blogspot.co.id/2015/01/keadaan-bangsa-arab-sebelum-datangnya.html (Januari 2015).
[2] Rudi
Arlan Al-farisi, “Sejarah Arab Pra Islam”, Blog
Rudi Arlan Al-farisi. http://spistai.blogspot.co.id/2009/03/sejarah-arab-pra-islam.html
(2
Maret 2009).
[3]“Bangsa
Arab Sebelum Islam”. http://arp-rabbani. blogspot.co.id/2011/11/bangsa-arab-sebelum-islam.html (16 November 2011)
No comments:
Post a Comment